Jumat, 14 Januari 2011

sinopsis novel angkatan 20 an

AZAB DAN SENGSARA 20 AN
Karya : Merari Siregar
Penerbit : Balai Pustaka, terbitan XVII, 2000
Angkatan : 20-An
Tebal Buku : 163 Halaman
Jumlah Halaman : 163

Novel yang berjudul “Azab dan Sengsara” karya Merari Siregar ini menceritakan kisah kehidupan seorang anak gadis bernama Mariamin. Mariamin tinggal dipondok bambu beratapkan ijuk dekat sungai yang mengalir di tengah-tengah kota Sipirok. Di waktu senja Mariamin atau yang biasa dipanggil Riam seperti biasanya duduk di sebuah batu besar di depan rumahnya menunggu kekasih nya datang. Mariamin sangat sedih karena Aminu’ddin, kekasihnya itu menemuinya untuk berpamitan sebab dia akan pergi ke Medan untuk mencari pekerjaan supaya dia bisa menikahi kekasihnya itu dan bisa mengeluarkan Mariamin dan keluarganya dari kesengsaraan.
Aminuddin seorang anak muda berumur delapan belas tahun.
Dia adalah anak kepala kampung A. Ayah Aminu’ddin seorang kepala kampung yang terkenal di seantero Sipirok. Harta bendanya sangat banyak. Adapun kekayaannya itu berasal dari peninggalan orangtuanya tetapi karena rajin bekerja, maka hartanya bertambah banyak. Ayah Aminu’ddin mempunyai budi yang baik. Sifat-sifatnya itu menurun pada anak laki-laki satu-satunya, Aminu’ddin. Aminuddin bertabiat baik, pengiba, rajin, dan cerdas.
Setelah Aminu’ddin pulang, Mariamin pun masuk kedalam rumahnya untuk menyuapi ibunya yang sedang sakit.
Mariamin tidak ingin membuat ibunya sedih oleh karena itu ia berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya karena harus berpisah dengan orang yang dicintainya walaupun itu hanya sementara. Ibunya sangat mengenal gadis itu sehingga dia mengetahui kalau Mariamin sedang bersedih. Ibunya mengira kesedihan anaknya itu karena dia sedang sakit sebab sakitnya ibu Mariamin sudah lama sekali. Setelah selesai menyuapi ibunya, Mariamin pergi ke kamarnya untuk tidur. Mariamin tidak dapat memejamkan matanya, Pikirannya melayang mengingatkan masa lalunya ketika dia masih kecil.
Dahulu ayah Mariamin, Sutan Baringin adalah seorang yang terbilang hartawan dan bangsawan di seantero penduduk Sipirok. Akan tetapi karena ia suka berperkara, maka harta yang banyak itu habis dan akhirnya jatuh miskin dan hina. Berapa kali Sutan Baringin dilarang istrinya supaya berhenti berpengkara, tetapi tidak diindahkannya ia malah lebih mendengarkan perkataan pokrol bambu tukang menghasut bernama Marah Sait. Ibu Mariamin memang seorang perempuan yang penyabar, setia sederhana dan pengiba berlawanan dengan Sutan Baringin, suaminya yang pemarah, malas, tamak , angkuh dan bengis. Mariamin dan Aminu’ddin berteman karib sejak kecil apalagi mereka masih mempunyai hubungan saudara sebab ibu Aminu’ddin adalah ibu kandung dari Sutan Baringin, ayah Mariamin ditambah lagi Mariamin sangat berhutang budi kepada Aminu’ddin karena telah menyelamatkan nyawanya ketika Mariamin hanyut di sungai.

Setelah 3 bulan Aminu’ddin berada di Medan, dia mengirimkan surat kepada Mariamin memberitahukan kalau dia sudah mendapat pekerjaan, Mariamin pun membalas surat dari Aminu’ddin tersebut.
Mariamin sangat bahagia menerima surat dari Aminu’ddin yang isinya menyuruh Mariamin untuk berkemas karena Aminu’ddin telah mengirim surat kepada orangtuanya untuk datang ke rumah Mariamin dan mengambil dia menjadi istrinya serta mengantarkannya ke Medan. Tetapi ayah Aminu’ddin tidak menyetujui permintaan putranya itu, biarpun istrinya membujuknya supaya memenuhi permintaan Aminu’ddin.
Mariamin sudah mempersiapkan jamuan untuk menyambut kedatangan orang tua Aminu’ddin. Akan tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang, malah yang datang adalah surat permintaan maaf dari Aminu’ddin. Dalam surat itu memberitahukan kalau kedua orang tua nya sudah berada di Medan dengan membawa gadis lain sebagai calon istrinya. Aminuddin sangat kecewa dan hatinya hancur tetapi dia tidak bisa menolak karena tidak ingin mempermalukan orang tuanya dan dia tidak mau durhaka pada orangtua
Mariamin gadis yang solehah itu menerima maaf Aminu’ddin, dia menerima semuanya sebagai nasibnya dan harapannya untuk keluar dari kesengsaraan pun sudah pudar.
Setelah dua tahun lamanya Mariamin pun menikah dengan orang yang belum dikenalnya, pria itu bernama Kasibun. Usia Kasibun agak tua, tidak tampan dan dia pintar dalam tipu daya, selain itu dia juga mengidap penyakit mematikan yang mudah menular pada pasangannya.
Aminu’ddin mengunjungi Mariamin di rumah suaminya ketika itu suaminya sedang bekerja di kantor. Kasibun sangat marah setelah dia mengetahui kedatangan Aminu’ddin apalagi ketika Mariamin menolak berhubungan suami-istri. Suaminya yang bengis itu tidak segan-segan menamparnya, memukulnya dan berbagai penyiksaan lainnya.
Akhirnya karena dia sudah tidak tahan lagi Mariamin melaporkan perbuatan suaminya itu pada polisi. Sampai akhirnya mereka bercerai. Kesudahannya Mariamin terpaksa Pulang ke negrinya membawa nama yang kurang baik, membawa malu, menambah azab dan sengsara yang bersarang di rumah kecil yang di pinggir sungai Sipirok.
Hidup Mariamin sudah habis dan kesengsaraannya di dunia sudah berkesudahan. Azab dan Sengsara dunia ini sudah tinggal di atas bumi, berkubur dengan jazad badan yang kasar itu.


HULUBALANG RAJA “ANGKATAN 20”

Raja kota Hulu, yang merasa putrinya Ambun Suri sudah saatnya dicarikan seorang suami. Untuk itu dia mengundang para bangsawan di daerah sekitar kota Hulu ataupun dari daerah lainnya untuk mengadakan peruntungan memperebutkan putrinya itu. Namun ternyata para bangsawan itu, kecuali Sutan Muhammad Syah seorang raja serakah di kota Hilir yang berhasil melampaui perlombaan yang digelarkan, sehingga hanya dialah yang berhak melamar Putri Ambun Suri. Lamaran Raja Sutan Muhammad Syah yang sebenarnya sudah mempunyai istri dan merupakan seorang raja yang serakah itu dengan terpaksa harus diterima oleh Raja Kota Hulu.
Rupanya Putri Kemala Sari, istri Sutan Muhammad Syah merasa iri dengan Ambun Suri madunya itu, sehingga dia berniat mencelakakan Ambun Suri. Dalam suatu kesempatan niatnya itu dia laksanakan dengan baik. Putri Suri dicemplungkan ke sungai ke dalam sungai ketika putri itu mandi di sungai. Sehingga Putri Ambun Suri lenyap dibawa arus sungai dan tak tahu nasibnya lagi setelah itu.
Hilangnya Putri Ambun Suri itu ternyata membuat Ali Akbar, kakaknya Putri Ambun Suri marah besar setelah dia tahu bahwa yang mencelakakan adik yang sangat dia cintai itu adalah Putri Kemala Sari, istri tua Sutan Muhammad Syah itu. Akibatnya terjadilah perang antara kedua belah pihak, yaitu antara laskar pendukung Ali akbar dengan laskar pendukung Sutan Muhammad Syah. Cukup lama dan sengit pertempuran yang terjadi, namun karena Sutan Muhammad Syah mendapat bantuan dari kompeni maka pasukan Sutan Ali Akbar semakin lama semakin terdesak. Karena tak mampu melawan secara terbuka, kemudian Sutan Ali Akbar lari ke hutan dan melakukan perlawanan secara grilya. Sedangkan daerah Sutan Ali Akbar yang bergelar Raja Adil itu habis dibumihanguskan oleh laskar kompeni dan Sutan Muhammad Syah.
Kehadiran kompeni di daerah itu memang selalu mendapat reaksi negatif dari kebanyakan penduduk, karena kedatangan mereka disana dilihat dari tingkah lakunya tidak hanya sekedar berdagang akan tetapi ada maksud hendak menguasai perdagangan secara monopoli maupun menguasai tanahnya sekalian. Kaum kompeni itu selalu perlawanan sengit dari penduduk, terutama perlawanan dari para penduduk yang dipimpin oleh Sutan Ali Akbar yang sangat sulit untuk dikuasai oleh kompeni.
Dalam menumpas orang-orang atau rakyat yang tidak setuju dengan kehadiran kompeni-kompeni itu, maka kompeni selalu mencari dan minta bantuan pada raja-raja atau siapa saja dari rakyat yang bersedia bekerjasama dengan mereka. Nah dalam usahanya menumpas para pemberontak itu, kompeni tidak hanya dibantu oleh laskar Sutan Muhammad Syah tapi juga oleh seorang gagah berani yang bernama Sutan Malakewi. Sutan Malakewi ini ditugaskan oleh kompeni untuk menumpas kaum pemberontak yang berada didaerah Pauh. Berkat bantuan Sutan Malakewi, banyak kaum pemberontak yang hancur. Namun satu laskar pemberontak yang paling dia tumpaskan, yaitu laskar yang dipimpin oleh Raja Adil atau Sutan Ali Akbar. Malah dalam suatu pertempuran, pimpinan pasukan kompeni yang bernama Groenewegen hampi tewas digasak oleh Laskar Raja Adil, akan tetapi Groenewegen selamat ditolong oleh Sutan Malakewi. Namun sejak kecelakaan itu, Groenewegen terus mengalami sakit-sakitan hingga sampai meninggal dunia.
Gruys yang menggantikan Groenewegen ternyata tak becus dalam melawan perlawanan orang-orang pauh. Karena tak becus, dia kemudian di gantikan oleh Abraham Verspreet. Verspreet yang di Bantu oleh laskar-laskar yang dibawa dari Ambon dan Bugis itu dan bersama Sutan Malakewi menggempur para pemberontak habis-habisan.
Namun perlawanan rakyat terus saja gigih. Malah Sutan Malakewi kalau tidak di selamatkan oleh laskar yang berasal dari Bugis hampir tewas. Dia hanya terluka saja. Dan adik Sutan Malakewi malah juga tertawan dan diculik oleh oarng-orang Raja Adil. Setelah Sutan Malakewi sembuh dari lukanya, Sutan Malakewi mencari adiknya dengan cara menyamar sebagai rakyat biasa kedalam tubuh laskar Raja Adil. Namun penyamarannya itu tak lama kemudian terbongkar. Sutan Malakewi tidak dicelakai oleh Raja Adil karena ternyata perempuan yang dia culik itu, yang sekarang dia telah jadikan istri itu, ternyata adik kandung Sutan Malakewi. Melihat kenyataan itu, rupanya Sutan Malakewi juga tidak bias berbuat apa-apa, karena musuh besarnya itu sekarang telah menjadi adik iparnya sendiri. Kemudian keduanya, karena sudah menjadi saudara saling melupakan permusuhan masa lalunya. Sutan Malakewi kemudian membawa Raja Adil dan Adnan Dewi adiknya itu ke kedua orang tuanya. Dan ternyata orang tua Sutan Malakewi menerima kedatangan mereka dengan sukacita. Tidak lama kemudian pesta penyambutan Raja Adil dan istrinya itu dilanjutkan pesta besar berikutnya, yaitu pesta perkawinan antara Sarayawa dengan Sutan Malakewi yang bergelar Hulubalang Raja itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar